Sabtu, 21 November 2015

1.       Sunan Gresik

Sunan Gresik nama aslinya adalah Maulana Malik Ibrahim. Beliau masih keturunan Ali Zainal Abidin al-Husein. Setelah mendedikasikan dirinya di Gresik, Jawa Timur, beliau mendapat gelar Maulana Maghribi, Syekh Maghribi, dan Sunan Gresik. Beliau datang ke Indonesia pada zaman kerajaan Majapahit tahun 1379 untuk menyebarkan Islam bersama-sama Raja Cermin.[1][5] Maulana  Magribi  datang  ke  Jawa  tahun  1404  M.  Beliau  berasal   dari Samarkandi di Asia Kecil. Dari Asia Kecil beliau  bermukim dulu di Campa dan kemudian datang  ke  Jawa  Timur. Kedatangan  beliau  jauh  sesudah  agama  Islam masuk  di   Jawa  Timur.  Hal  ini  dapat  diketahui  dari  batu  nisan  seorang  wanita muslim  bernama  Fatimah  binti  Maimun  yang   wafat  pada  tahun  476  H.  atau 1087M.
Menurut  literatur  yang  ada,  Malik  Ibrahim  seorang  yang  ahli  pertanian dan ahli pengobatan. Sejak beliau berada di Gresik, hasil pertanian rakyat Gresik meningkat  tajam.  Dan  orang-orang  yang  sakit  banyak  disembuhkannya  dengan daun-daunan  tertentu.  Sifatnya  lemah  lembut,  belas  kasih  dan  ramah  kepada semua  orang,  baik  sesama  muslim  atau  non  muslim  membuatnya  terkenal sebagai  tokoh  masyarakat  yang  disegani  dan  dihormati.  Kepribadiannya  yang baik  itulah  yang  menarik  hati  penduduk  setempat  sehingga  mereka  berbondongbondong  untuk  masuk  agama  Islam  dengan  suka  rela  dan menjadi  pengikut beliau yang setia.
Malik  Ibrahim  menetap  di  Gresik  dengan  mendirikan  masjid  dan pesantren untuk  mengajarkan  agama  Islam kepada  masyarakat  sampai  ia  wafat. Maulana Malik Ibrahim wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 822 H/ 1419 M, dan dimakamkan di Gapura Wetan, Gresik. Pada nisannya terdapat tulisan Arab yang  menunjukkan  bahwa  dia  adalah  seorang  penyebar  agama  yang  cakap  dan gigih.[2][6]

2.       Sunan Ampel

Sunan Ampel lahir pada 1401, dengan nama kecil Raden Rahmat. Beliau adalah putra Raja Campa. Raden Rahmat menikah dengan Nyai Manila, seorang putri Tuban. Beliau mempunyai empat anak : Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat), Putri Nyai Ageng Maloka dan Dewi Sarah (istri Sunan Kalijaga). Beliau terlibat dalam pembangunan masjid Demak (1479). Sunan Amel merupakan pelanjut perjuangan Maulana Malik Ibrahim yang sangat handal. Beliau terkenal dengan mengarang sya’ir dengan menggunakan ide-ide dan budaya lokal.[3][7]
Sunan  Ampel  juga  yang  pertama  kali  menciptakan Huruf  Pegon  atau
tulisan  Arab  berbunyi  bahasa  Jawa.  Dengan  huruf  pegon  ini,  beliau  dapat menyampaikan  ajaran-ajaran  Islam  kepada  para  muridnya.  Hingga  sekarang huruf  pegon tetap  dipakai  sebagai  bahan  pelajaran  agama  Islam  di  kalangan pesantren.
Hasil didikan Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Mo Limo atau tidak melakukan lima hal tercela, yaitu : [4][8]
1.  Moh Main atau tidak mau berjudi
2.  Moh Ngombe atau tidak mau minum arah atau bermabuk-mabukan.
3.  Moh Maling atau tidak mau mencuri
4.  Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganja dan lain-lain.
5.  Moh Madon atau tidak mau berzina.
Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M.


3.       Sunan Bonang
               
Nama aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau Putra Sunan Ampel. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli ilmu kalam dan tauhid. Beliau dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Setelah belajar di Pasai, Aceh, Sunan Bonang kembali ke Tuban, Jawa Timur, untuk mendirikan pondok pesantren.
Sunan Bonang dan para wali lainnya dalam menyebarkan agama Islam selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Mereka memanfaatkan pertunjukan tradisional itu sebagai media dakwah Islam, dengan menyisipkan napas Islam ke dalamnya. Syair lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah SWT. dan tidak menyekutukannya.
Setiap bait lagu diselingi dengan syahadatain (ucapan dua kalimat syahadat); gamelan yang mengirinya kini dikenal dengan istilah sekaten, yang berasal dari syahadatain. Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu yang dikenal dengan tembang Durma, sejenis macapat yang melukiskan suasana tegang, bengis, dan penuh amarah. Sunan Bonang wafat di pulau Bawean pada tahun 1525 M.

4.        Sunan Drajat
Nama aslinya adalah Raden Syarifudin. Ada suber yang lain yang mengatakan namanya adalah Raden Qasim, putra Sunan Ampel dengan seorang ibu bernama Dewi Candrawati. Jadi Raden Qasim itu adalah saudaranya Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Oleh ayahnya yaitu Sunan Ampel, Raden Qasim diberi tugas untuk berdakwah di daerah sebelah barat Gresik, yaitu daerah antara Gresik dengan Tuban.[5][9]
Di desa Jalang itulah Raden Qasim mendirikan pesantren. Dalam waktu yang singkat telah banyak orang-orang yang berguru kepada beliau. Setahun kemudian di desa Jalag, Raden Qasim mendapat ilham agar pindah ke daerah sebalah selatan kira-kira sejauh satu kilometer dari desa Jelag itu. Di sana beliau mendirikan Mushalla atau Surau yang sekaligus dimanfaatkan untuk tempat berdakwah. Tiga tahun tinggal di daerah itu, beliau mendaat ilham lagi agar pindah tempat ke satu bukit. Dan di tempat baru itu beliau berdakwah dengan menggunakan kesenian rakyat, yaitu dengan menabuh seperangkat gamelan untuk mengumpulkan orang, setelah itu lalu diberi ceramah agama. Demikianlah kecerdikan Raden Qasim dalam mengadakan pendekatan kepada rakyat dengan menggunakan kesenian rakyat sebagai media dakwahnya. Sampai sekarang seperangkat gamelan itu masih tersimpan dengan baik di museum di dekat makamnya. Beliau wafat ada petengahan abad ke 16.

5.       Sunan Kalijaga

Nama aslinya adalah Raden Sahid, beliau putra Raden Sahur putra Temanggung Wilatika Adipati Tuban. Raden Sahid sebenarnya anak muda yang patuh dan kuat kepada agama dan orang tua, tapi tidak bisa menerima keadaan sekelilingnya yang terjadi banyak ketimpangan, hingga dia mencari makanan dari gudang kadipaten dan dibagikan kpeada rakyatnya. Tapi ketahuan ayahnya, hingga dihukum yaitu tangannya dicampuk 100 kali sampai banyak darahnya dan diusir.
Setelah diusir, ia bertemu orang berjubah putih, dia adalah Sunan Bonang. Lalu Raden Sahid diangkat menjadi murid, lalu disuruh menunggui tongkatnya di depan kali sampai berbulan-bulan sampai seluruh tubuhnya berlumut. Maka Raden Sahid disebut Sunan Kalijaga.
Sunan kalijaga menggunakan kesenian dalam rangka penyebaran Islam, antara lain dengan wayang, sastra dan berbagai kesenian lainnya. Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam seperti. Sunan Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Sebagian wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita itu disispkan ajaran agama dan nama-nama pahlawan Islam.[6][10] Sunan Kalijaga wafat pada pertengahan abad ke 15.
6.       Sunan Giri

Sunan Giri merupakan putra dari Maulana Ishak dan ibunya bernama Dewi Sekardadu putra Menak Samboja. Nama Sunan Giri tidak bisa dilepaskan dari proses pendirian kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak. Ia adalah wali yang secara aktif ikut merencanakan berdirinya negara itu serta terlibat dalam penyerangan  ke Majapahit sebagai penasihat militer.[7][11]
Sunan Giri atau Raden Paku dikenal sangat dermawan, yaitu dengan membagikan barang dagangan kepada rakyat Banjar yang sedang dilanda musibah. Beliau pernah bertafakkur di goa sunyi selama 40 hari 40 malam untuk bermunajat kepada Allah. Usai bertafakkur ia teringat pada pesan ayahnya sewaktu belajar di Pasai untuk mencari daerah yang tanahnya mirip dengan yang dibawahi dari negeri Pasai melalui desa Margonoto. Sampailah Raden Paku di daerah perbatasan yang hawanya sejuk, lalu dia mendirikan pondok pesantren yang dinamakan Pesantren Giri. Sunan Giri sangat berjasa dalam penyebaran Islam baik di Jawa atau nusantara baik dilakukannya sendiri waktu muda melalui berdagang atau bersama muridnya. Beliau juga menciptakan tembang-tembang dolanan anak kecil yang bernafas Islami, seperti jemuran, cublak suweng dan lain-lain. Sunan Giri wafat pada awal abad ke 16.

7.       Sunan Kudus

Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Beliau memiliki keahlian khusus dalam bidang agama, terutama dalam ilmu fikih, tauhid, hadits, tafsir serta logika. Karena itulah di antara walisongo hanya ia yang mendapat julukan wali al-‘ilm (wali yang luas ilmunya), dank arena keluasan ilmunya ia didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara.
Ada cerita yang mengatakan bahwa Sunan Kudus pernah belajar di Baitul Maqdis, Palestina, dan pernah berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban di Palestina. Atas jasanya itu, oleh pemerintah Palestiana ia diberi ijazah wilayah (daerah kekuasaan) di Palestina, namun Sunan Kudus mengharapkan hadiah tersebut dipindahkan ke Pulau Jawa, dan oleh Amir (penguasa setempat) permintaan itu dikabulkan.
Sekembalinya ke Jawa ia mendirikan masjid di daerah Loran tahun 1549, masjid itu diberi nama Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar (Masjid Menara Kudus) dan daerah sekitanya diganti dengan nama Kudus, diambil dari nama sebuah kota di Palestina, al-Quds. Dalam melaksanakan dakwah dengan pendekatan kultural, Sunan Kudus menciptakan berbagai cerita keagamaan. Yang paling terkenal adalah Gending Maskumambang dan Mijil. Cara-cara berdakwah Sunan Kudus adalah sebagai berikut:
a.       Strategi pendekatan kepada masa dengan jalan:
1.    Membiarkan adat istiadat lama yang sulit diubah
2.    Menghindarkan konfrontasi secara langsung dalam menyiarkan agama islam
3.    Tut Wuri Handayani
4.    Bagian adat istiadat yang tidak sesuai dengan mudah diubah langsung diubah.
b.    Merangkul masyarakat Hindu seperti larangan menyembelih sapi karena dalam agama Hindu sapi adalah binatang suci dan keramat.
c.    Selamatan Mitoni
Biasanya sebelum acara selamatan diadakan membacakan solawat Nabi.
Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M dan dimakamkan di Kudus. Di pintu makan Kanjeng Sunan Kudus terukir kalimat asmaul husna yang berangka tahun 1296 H atau 1878 M.[8][12]

8.       Sunan Muria

Salah seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaan Pulau Jawa adalah Sunan Muria. Beliau lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di sebelah utara Kota Kudus sekarang).[9][13]
Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said, dalam berdakwah ia seperti ayahnya yaitu menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai keruh airnya. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan dan rakyat jelata. Beliau adalah satu-satunya wali yang mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah dan beliau pulalah yang menciptakan tembang sinom dan kinanthi. Beliau banyak mengisi tradisi Jawa dengan nuansa Islami seperti nelung dino, mitung dino, ngatus dino dan sebagainya.[10][14] Sunan Muria wafat pada abad ke 16.

9.       Sunan Gunung Jati

Salah seorang dari Walisongo yang banyak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa, terutama di daerah Jawa Barat; juga pendiri Kesultanan Cirebon. Nama aslinya Syarif Hidayatullah. Dialah pendiri dinasti Raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. Sunan Gunung Jati adalah cucu Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi.[11][15]
Setelah selesai menuntut ilmu pasa tahun 1470 dia berangkat ketanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya. Disana beliau bersama  ibunya disambut  gembira oleh pangeran Cakra Buana. Syarifah  Mudain minta agar diizinkan tinggal dipasumbangan Gunung Jati dan disana mereka membangun pesantren untuk meneruskan usahanya Syeh Datuk Latif  gurunya pangeran Cakra Buana. Oleh karena itu Syarif Hidayatullah dipanggil sunan gunung Jati. Lalu ia dinikahkan dengan putri Cakra Buana Nyi Pakung Wati kemudian ia diangkat menjadi pangeran Cakra Buana yaitu pada tahun 1479 dengan diangkatnya ia sebagai pangeran, dakwah islam dilakukannya melalui diplomasi dengan kerajaan lain.
Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah Kerajaan Islam yang bebas dari kekuasaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi kerajaan yang belum menganut agama Islam. Dari Cirebon, ia mengembangkan agama Islam ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten.[12][16]

E.      PENUTUP
1.       Kesimpulan
Kesimpulan dari penulisan makalah ini adalah:
Wali songo adalah  sembilan wali yang dianggap telah dekat dengan Allah SWT, terus menerus beribadah kepada-Nya, serta memiliki kekeramatan dan kemampuan-kemampuan lain di luar kebiasaan manusia. Terdiri dari Sembilan wali yaitu : Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Raden Rahmat  (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan Giri), Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Qosim  (Sunan Drajat), Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Raden Ja’far Sadiq  (Sunan Kudus), Raden Said (Sunan Kalijaga), Raden Umar Said (Sunan Muria). Adapun peranan walisongo dalam penyebaran agama Islam antara lain:
a.       Sebagai pelopor penyebarluasan agama Islam kepada masyarakat yang belum banyak mengenal ajaran Islam di daerahnya masing-masing.
b.        Sebagai para pejuang yang gigih dalam membela dan mengembangkan agama Islam di masa hidupnya.
c.       Sebagai orang-orang yang ahli di bidang agama Islam.
d.       Sebagai orang yang dekat dengan Allah SWT karena terus-menerus beribadah kepada-Nya, sehingga memiliki kemampuan yang lebih.
e.       Sebagai pemimpin agama Islam di daerah penyebarannya masing-masing, yang mempunyai jumlah pengikut cukup banyak di kalangan masyarakat Islam.
f.        Sebagai guru agama Islam yang gigih mengajarkan agama Islam kepada para muridnya.
g.       Sebagai kiai yang menguasai ajaran agama Islam dengan cukup luas.
h.       Sebagai tokoh masyarakat Islam yang disegani pada masa hidupnya.
2.       Saran
Saran yang dapat disampaikan untuk pembaca adalah dengan mengetahui kisah-kisah dari wali sanga diharapkan dapat mengambil hikmah dan meneladani sikap-sikap para wali sanga yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.