1. Sunan
Gresik
Sunan Gresik
nama aslinya adalah Maulana Malik Ibrahim. Beliau masih keturunan Ali Zainal
Abidin al-Husein. Setelah mendedikasikan dirinya di Gresik, Jawa Timur, beliau
mendapat gelar Maulana Maghribi, Syekh Maghribi, dan Sunan Gresik. Beliau
datang ke Indonesia pada zaman kerajaan Majapahit tahun 1379 untuk menyebarkan
Islam bersama-sama Raja Cermin.[1][5]
Maulana Magribi datang
ke Jawa tahun
1404 M. Beliau
berasal dari Samarkandi di Asia
Kecil. Dari Asia Kecil beliau bermukim
dulu di Campa dan kemudian datang
ke Jawa Timur. Kedatangan beliau
jauh sesudah agama
Islam masuk di Jawa
Timur. Hal ini
dapat diketahui dari
batu nisan seorang
wanita muslim bernama Fatimah
binti Maimun yang
wafat pada tahun
476 H. atau 1087M.
Menurut literatur
yang ada, Malik
Ibrahim seorang yang
ahli pertanian dan ahli
pengobatan. Sejak beliau berada di Gresik, hasil pertanian rakyat Gresik
meningkat tajam. Dan
orang-orang yang sakit
banyak disembuhkannya dengan daun-daunan tertentu.
Sifatnya lemah lembut,
belas kasih dan
ramah kepada semua orang,
baik sesama muslim
atau non muslim
membuatnya terkenal sebagai tokoh
masyarakat yang disegani
dan dihormati. Kepribadiannya yang baik
itulah yang menarik
hati penduduk setempat
sehingga mereka berbondongbondong untuk
masuk agama Islam
dengan suka rela
dan menjadi pengikut beliau yang
setia.
Malik Ibrahim
menetap di Gresik
dengan mendirikan masjid
dan pesantren untuk
mengajarkan agama Islam kepada
masyarakat sampai ia
wafat. Maulana Malik Ibrahim wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 822
H/ 1419 M, dan dimakamkan di Gapura Wetan, Gresik. Pada nisannya terdapat
tulisan Arab yang menunjukkan bahwa
dia adalah seorang
penyebar agama yang
cakap dan gigih.[2][6]
2. Sunan
Ampel
Sunan Ampel
lahir pada 1401, dengan nama kecil Raden Rahmat. Beliau adalah putra Raja Campa.
Raden Rahmat menikah dengan Nyai Manila, seorang putri Tuban. Beliau mempunyai
empat anak : Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan
Drajat), Putri Nyai Ageng Maloka dan Dewi Sarah (istri Sunan Kalijaga). Beliau
terlibat dalam pembangunan masjid Demak (1479). Sunan Amel merupakan pelanjut
perjuangan Maulana Malik Ibrahim yang sangat handal. Beliau terkenal dengan
mengarang sya’ir dengan menggunakan ide-ide dan budaya lokal.[3][7]
Sunan Ampel
juga yang pertama
kali menciptakan Huruf Pegon
atau
tulisan Arab
berbunyi bahasa Jawa.
Dengan huruf pegon
ini, beliau dapat menyampaikan ajaran-ajaran
Islam kepada para
muridnya. Hingga sekarang huruf pegon tetap
dipakai sebagai bahan
pelajaran agama Islam
di kalangan pesantren.
Hasil
didikan Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Mo Limo atau tidak melakukan
lima hal tercela, yaitu : [4][8]
1. Moh Main atau tidak mau berjudi
2. Moh Ngombe atau tidak mau minum arah atau
bermabuk-mabukan.
3. Moh Maling atau tidak mau mencuri
4. Moh Madat atau tidak mau mengisap candu,
ganja dan lain-lain.
5. Moh Madon atau tidak mau berzina.
Sunan Ampel
wafat pada tahun 1481 M.
3.
Sunan Bonang
Nama aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau Putra
Sunan Ampel. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli ilmu kalam dan tauhid. Beliau
dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran
Islam di pesisir utara Jawa Timur. Setelah belajar di Pasai, Aceh, Sunan Bonang kembali ke Tuban, Jawa Timur,
untuk mendirikan pondok pesantren.
Sunan Bonang dan para wali lainnya dalam menyebarkan
agama Islam selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa
yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Mereka memanfaatkan
pertunjukan tradisional itu sebagai media dakwah Islam, dengan menyisipkan
napas Islam ke dalamnya. Syair lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi
pesan tauhid, sikap menyembah Allah SWT. dan tidak menyekutukannya.
Setiap bait lagu diselingi dengan syahadatain (ucapan dua
kalimat syahadat); gamelan yang mengirinya kini dikenal dengan istilah sekaten,
yang berasal dari syahadatain. Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu yang
dikenal dengan tembang Durma, sejenis macapat yang melukiskan suasana tegang,
bengis, dan penuh amarah. Sunan Bonang wafat di pulau Bawean pada tahun 1525 M.
4. Sunan Drajat
Nama aslinya adalah Raden Syarifudin. Ada suber yang lain
yang mengatakan namanya adalah Raden Qasim, putra Sunan Ampel dengan seorang
ibu bernama Dewi Candrawati. Jadi Raden Qasim itu adalah saudaranya Raden
Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Oleh ayahnya yaitu Sunan Ampel, Raden Qasim
diberi tugas untuk berdakwah di daerah sebelah barat Gresik, yaitu daerah antara
Gresik dengan Tuban.[5][9]
Di desa Jalang itulah Raden Qasim mendirikan pesantren.
Dalam waktu yang singkat telah banyak orang-orang yang berguru kepada beliau.
Setahun kemudian di desa Jalag, Raden Qasim mendapat ilham agar pindah ke
daerah sebalah selatan kira-kira sejauh satu kilometer dari desa Jelag itu. Di
sana beliau mendirikan Mushalla atau Surau yang sekaligus dimanfaatkan untuk
tempat berdakwah. Tiga tahun tinggal di daerah itu, beliau mendaat ilham lagi
agar pindah tempat ke satu bukit. Dan di tempat baru itu beliau berdakwah dengan menggunakan kesenian rakyat, yaitu
dengan menabuh seperangkat gamelan untuk mengumpulkan orang, setelah itu lalu
diberi ceramah agama. Demikianlah kecerdikan Raden Qasim dalam mengadakan
pendekatan kepada rakyat dengan menggunakan kesenian rakyat sebagai media
dakwahnya. Sampai sekarang seperangkat gamelan itu masih tersimpan dengan baik
di museum di dekat makamnya. Beliau
wafat ada petengahan abad ke 16.
5. Sunan Kalijaga
Nama aslinya adalah Raden Sahid, beliau putra Raden Sahur
putra Temanggung Wilatika Adipati Tuban. Raden Sahid sebenarnya anak muda yang
patuh dan kuat kepada agama dan orang tua, tapi tidak bisa menerima keadaan
sekelilingnya yang terjadi banyak ketimpangan, hingga dia mencari makanan dari
gudang kadipaten dan dibagikan kpeada rakyatnya. Tapi ketahuan ayahnya, hingga
dihukum yaitu tangannya dicampuk 100 kali sampai banyak darahnya dan diusir.
Setelah diusir, ia bertemu orang berjubah putih, dia
adalah Sunan Bonang. Lalu Raden Sahid diangkat menjadi murid, lalu disuruh
menunggui tongkatnya di depan kali sampai berbulan-bulan sampai seluruh
tubuhnya berlumut. Maka Raden Sahid disebut Sunan Kalijaga.
Sunan kalijaga menggunakan kesenian dalam rangka
penyebaran Islam, antara lain dengan wayang, sastra dan berbagai kesenian
lainnya. Pendekatan jalur kesenian dilakukan oleh para penyebar Islam seperti. Sunan Kalijaga adalah tokoh seniman wayang. Sebagian
wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam
cerita itu disispkan ajaran agama dan nama-nama pahlawan Islam.[6][10] Sunan Kalijaga wafat pada pertengahan abad ke
15.
6. Sunan Giri
Sunan Giri merupakan putra dari Maulana Ishak dan ibunya
bernama Dewi Sekardadu putra Menak Samboja. Nama Sunan Giri tidak bisa dilepaskan
dari proses pendirian kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak. Ia adalah wali
yang secara aktif ikut merencanakan berdirinya negara itu serta terlibat dalam
penyerangan ke Majapahit sebagai
penasihat militer.[7][11]
Sunan Giri atau Raden Paku dikenal sangat dermawan, yaitu
dengan membagikan barang dagangan kepada rakyat Banjar yang sedang dilanda
musibah. Beliau pernah bertafakkur di goa sunyi selama 40 hari 40 malam untuk
bermunajat kepada Allah. Usai bertafakkur ia teringat pada pesan ayahnya sewaktu
belajar di Pasai untuk mencari daerah yang tanahnya mirip dengan yang dibawahi
dari negeri Pasai melalui desa Margonoto. Sampailah Raden Paku di
daerah perbatasan yang hawanya sejuk, lalu dia mendirikan pondok pesantren yang
dinamakan Pesantren Giri. Sunan Giri sangat berjasa dalam penyebaran Islam baik
di Jawa atau nusantara baik dilakukannya sendiri waktu muda melalui berdagang atau bersama muridnya. Beliau juga menciptakan
tembang-tembang dolanan anak kecil yang bernafas Islami, seperti jemuran,
cublak suweng dan lain-lain. Sunan Giri
wafat pada awal abad ke 16.
7. Sunan
Kudus
Sunan Kudus
menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Beliau memiliki keahlian
khusus dalam bidang agama, terutama dalam ilmu fikih, tauhid, hadits, tafsir
serta logika. Karena itulah di antara walisongo hanya ia yang mendapat julukan wali
al-‘ilm (wali yang luas ilmunya), dank arena keluasan ilmunya ia didatangi
oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di Nusantara.
Ada cerita
yang mengatakan bahwa Sunan Kudus pernah belajar di Baitul Maqdis, Palestina,
dan pernah berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban di Palestina.
Atas jasanya itu, oleh pemerintah Palestiana ia diberi ijazah wilayah (daerah
kekuasaan) di Palestina, namun Sunan Kudus mengharapkan hadiah tersebut
dipindahkan ke Pulau Jawa, dan oleh Amir (penguasa setempat) permintaan itu
dikabulkan.
Sekembalinya
ke Jawa ia mendirikan masjid di daerah Loran tahun 1549, masjid itu diberi nama
Masjid Al-Aqsa atau Al-Manar (Masjid Menara Kudus) dan daerah sekitanya diganti
dengan nama Kudus, diambil dari nama sebuah kota di Palestina, al-Quds. Dalam
melaksanakan dakwah dengan pendekatan kultural, Sunan Kudus menciptakan
berbagai cerita keagamaan. Yang paling terkenal adalah Gending Maskumambang dan
Mijil. Cara-cara berdakwah Sunan Kudus adalah sebagai berikut:
a.
Strategi
pendekatan kepada masa dengan jalan:
1.
Membiarkan adat
istiadat lama yang sulit diubah
2.
Menghindarkan
konfrontasi secara langsung dalam menyiarkan agama islam
3.
Tut Wuri
Handayani
4.
Bagian adat
istiadat yang tidak sesuai dengan mudah diubah langsung diubah.
b.
Merangkul
masyarakat Hindu seperti larangan menyembelih sapi karena dalam agama Hindu
sapi adalah binatang suci dan keramat.
c.
Selamatan Mitoni
Biasanya sebelum acara selamatan diadakan membacakan solawat Nabi.
Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M dan dimakamkan di
Kudus. Di pintu makan Kanjeng Sunan Kudus terukir kalimat asmaul husna
yang berangka tahun 1296 H atau 1878 M.[8][12]
8. Sunan
Muria
Salah
seorang Walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaan
Pulau Jawa adalah Sunan Muria. Beliau lebih terkenal dengan nama Sunan Muria
karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di
sebelah utara Kota Kudus sekarang).[9][13]
Beliau adalah putra dari Sunan Kalijaga dengan Dewi
Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said, dalam berdakwah ia seperti ayahnya yaitu
menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai
keruh airnya. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan dan rakyat
jelata. Beliau adalah satu-satunya wali yang mempertahankan kesenian gamelan
dan wayang sebagai alat dakwah dan beliau pulalah yang menciptakan tembang sinom dan kinanthi. Beliau banyak mengisi tradisi Jawa dengan
nuansa Islami seperti nelung dino, mitung dino, ngatus dino dan sebagainya.[10][14] Sunan Muria wafat pada abad ke 16.
9. Sunan
Gunung Jati
Salah
seorang dari Walisongo yang banyak berjasa dalam menyebarkan Islam di Pulau
Jawa, terutama di daerah Jawa Barat; juga pendiri Kesultanan Cirebon. Nama
aslinya Syarif Hidayatullah. Dialah pendiri dinasti Raja-raja Cirebon dan
kemudian juga Banten. Sunan Gunung Jati adalah cucu Raja Pajajaran, Prabu
Siliwangi.[11][15]
Setelah selesai menuntut ilmu pasa tahun 1470 dia
berangkat ketanah Jawa untuk mengamalkan ilmunya. Disana beliau bersama ibunya disambut gembira oleh pangeran Cakra Buana. Syarifah Mudain minta agar diizinkan tinggal
dipasumbangan Gunung Jati dan disana mereka membangun pesantren untuk
meneruskan usahanya Syeh Datuk Latif
gurunya pangeran Cakra Buana. Oleh karena itu Syarif Hidayatullah
dipanggil sunan gunung Jati. Lalu ia dinikahkan dengan putri Cakra Buana Nyi
Pakung Wati kemudian ia diangkat menjadi pangeran Cakra Buana yaitu pada tahun
1479 dengan diangkatnya ia sebagai pangeran, dakwah islam dilakukannya melalui
diplomasi dengan kerajaan lain.
Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah Kerajaan
Islam yang bebas dari kekuasaan Pajajaran, Sunan Gunung Jati berusaha
mempengaruhi kerajaan yang belum menganut agama Islam. Dari Cirebon, ia mengembangkan agama Islam ke
daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh),
Sunda Kelapa, dan Banten.[12][16]
E.
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Kesimpulan
dari penulisan makalah ini adalah:
Wali songo
adalah sembilan wali yang dianggap telah
dekat dengan Allah SWT, terus menerus beribadah kepada-Nya, serta memiliki
kekeramatan dan kemampuan-kemampuan lain di luar kebiasaan manusia. Terdiri
dari Sembilan wali yaitu : Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Raden
Rahmat (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan
Giri), Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Qosim (Sunan Drajat), Syarif Hidayatullah (Sunan
Gunung Jati), Raden Ja’far Sadiq (Sunan
Kudus), Raden Said (Sunan Kalijaga), Raden Umar Said (Sunan Muria). Adapun peranan walisongo
dalam penyebaran agama Islam antara lain:
a.
Sebagai pelopor
penyebarluasan agama Islam kepada masyarakat yang belum banyak mengenal ajaran
Islam di daerahnya masing-masing.
b.
Sebagai
para pejuang yang gigih dalam membela dan mengembangkan agama Islam di masa
hidupnya.
c.
Sebagai
orang-orang yang ahli di bidang agama Islam.
d.
Sebagai orang
yang dekat dengan Allah SWT karena terus-menerus beribadah kepada-Nya, sehingga
memiliki kemampuan yang lebih.
e.
Sebagai pemimpin
agama Islam di daerah penyebarannya masing-masing, yang mempunyai jumlah
pengikut cukup banyak di kalangan masyarakat Islam.
f.
Sebagai guru
agama Islam yang gigih mengajarkan agama Islam kepada para muridnya.
g.
Sebagai kiai yang
menguasai ajaran agama Islam dengan cukup luas.
h.
Sebagai tokoh
masyarakat Islam yang disegani pada masa hidupnya.
2.
Saran
Saran yang
dapat disampaikan untuk pembaca adalah dengan mengetahui kisah-kisah dari wali
sanga diharapkan dapat mengambil hikmah dan meneladani sikap-sikap para wali
sanga yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar